Feed on
Posts
comments

Sabtu, 26/09/2009 08:15 WIB

Mungkin di antara kita ada yang masih beranggapan bahwa seorang presiden bisa disamakan dengan seorang khalifah, memang benar keduanya sama-sama seorang pemimpin sebuah Negara, tetapi fungsi keduanya sebenarnya sangat berbeda. Seorang Khalifah dipilih untuk menjalankan Syariah, tetapi seorang presiden dipilih untuk menjalankankan sistem sekuler karena seorang presiden memang dilahirkan melalui sebuah sistem sekuler.

Jadi, ketika kita menyikapi janji Allah Swt tentang urutan fase umat Islam yang tertuang dalam hadist dibawah ini, langkah-langkah yang nantinya kita akan tempuh untuk menjemput janji Allah ini, haruslah tidak keluar dari konteks hadist ini. Pemahaman yang salah dalam mengartikan kedudukan seorang presiden dan khalifah dapat berakibat kesalahan pula dalam menentukan tujuan dan metode (thariqoh) perjuangan bagi para pengemban dakwah.

“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam,”(HR Ahmad 17680).

Saat ini kita hidup dalam fase yang ke-4 yaitu fase/periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak), jadi janji Allah Swt yang belum kita alami adalah munculnya fase ke-5 yaitu kembalinya khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan yang sesuai dengan manhaj kenabian). Sebuah kekhilafahan tentunya dipimpin oleh seorang khalifah dan bukannya seorang presiden karena kekhilafahan (khilafah) dan sebuah institusi yang berfungsi menegakkan hukum Allah Swt yaitu syariat Islam. Jadi jika ada sebuah wadah perjuangan Islam (Harakah Islamiyah) yang mempunyai tujuan untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam koridor NKRI itu adalah sebuah tujuan yang salah konteks.

Khilafah Bukanlah Negara Republik ataupun Kerajaan

Kekhilafahan bukanlah negara republik dan bukan pula kerajaan, kekhilafahan adalah institusi yang unik yang berlandaskan dari sumber-sumber hukum Islam. Negara republik adalah bentuk badan hukum sebuah negara sekuler, syariat Islam selamanya tidak akan dapat dilaksanakan secara kaffah melalui bentuk negara ini. Kita bisa lihat salah satu faktanya, banyak berdiri bank-bank yang mengaku syariah tetapi sebenarnya masih setengah syariah bahkan terkesan labelisasi semata, sampai kapanpun bank-bank tersebut tidak akan bisa murni syariah selama badan hukumnya (Perseroan Terbatas) masih bersifat kapitalistik.

Untuk merubah badan hukum dari bank-bank tersebut dibutuhkan sebuah keputusan politik dari sebuah legal sistem yang bersumber dari ideologi yang dianut oleh negara tempat bank-bank tersebut berada. Sedangkan negara republik adalah negara yang ber-ideologi sekuler, jadi selamanya tidak akan sinergis dengan instrument-instrument syariah yang dilaksanakan di negara itu. Sama halnya jika kita beranggapan bahwa syariah Islam bisa ditegakkan didalam koridor negara komunis.

Syariah Akan Timpang Jika Diterapkan Secara Parsial

Penerapan sistem Islam secara parsial malah akan menimbulkan ketimpangan di masyarakat, misalnya sistem Islam dalam hal peradilan dan sanksi hukum akan timpang ketika sistem ekonomi belum sesuai dengan syariah, padahal sistem ekonomi syariah juga tidak bisa tegak secara kaffah ketika ideologi negara yang dianut masih bersifat sekuler. Ujung-ujungnya semua berpulang pada masalah ideologi, dan ideologi itulah yang menentukan negara itu disebut negara republik, komunis ataupun Daulah Khilafah Rasyidah. Ijinkan saya mengutip beberapa kalimat dari sebuah buku yang berjudul “Pengenalan Sistem Islam dari A sampai Z” yang sungguh menarik untuk dicermati.

“…… penerapan sistem Islam secara parsial atau gradual (bertahap) merupakan sesuatu kekeliruan, dan tidak mampu memberikan keamanan dan keadilan kepada masyarakat. Sistem hukum Islam dapat ditamsilkan seperti sebatang pohon yang memiliki cabang yang sangat banyak. Sekalipun masing-masing sistem mirip sepotong cabang yang bersifat unik, namun semua sistem tersebut merupakan bagian dari suatu bangunan yang lebih besar, yaitu pandangan hidup Islam yang lengkap.”

Dari tujuan yang tidak sesuai konteksnya dengan yang telah dijanjikan Allah Swt, maka kesalahan itu akan menjalar pada penentuan metode (thoriqoh) yang dipakai oleh wadah perjuangan Islam.

Dengan beranggapan bahwa syariat Islam bisa ditegakkan secara kaffah dengan bermula menyentuh hal-hal yang bersifat parsial saja, tetapi melupakan masalah pokok yaitu ideologi sekuler yang masih dianut oleh negara ini, maka metode (thariqoh) yang ditempuh oleh sebuah wadah perjuangan Islam tersebut tidak akan bisa menyentuh persoalan-persoalan fundamental yang berhubungan dengan aqidah, tetapi malah hanya terlalu fokus pada sisi moralitas belaka dan bersifat parsial.

Mereka akan bangga ketika berhasil menempatkan kader-kadernya dalam pemerintahan sekuler, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka hanya “tamu” dalam sistem tersebut, “tuan rumah” tentunya para pengusung sekulerisme. Sebagai “tuan rumah” yang tidak mau “rumah”-nya dirongrong dari dalam, tentunya akan menciptakan aturan-aturan yang harus disetujui sang “tamu” sebagai syarat jika ingin masuk dalam “rumah” para pengusung sekulerisme agar sang “tamu” tidak bisa meng-obok-obok hal-hal yang bersifat fundamental. Kondisi ini membuat sang “tamu” akhirnya hanya bisa menyentuh hal-hal yang bersifat parsial saja, sehingga ketimpangan-ketimpangan di masyarakat tetap terjadi. Masyarakat tetap tersiksa, dan tetap jauh dari kondisi ketika sistem Islam pernah ditegakkan secara kaffah.

Kembalilah pada Thariqoh Rasulullah saw.

Oleh karena itu, ikutilah thariqoh Rasulullah saw yang tentunya atas tuntunan Allah Swt, yang tidak tergoda akan capaian-capaian parsial yang kelihatannya menjanjikan, tetapi sebenarnya masalah membuat tujuan menjadi membias dan bahkan mandul. “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran” (TQS. Al-A’raf : 3)

Thariqoh dimana tidak diambilnya jalan yang membuat perjuangan harus berlindung pada sistem kufur dan menyetujui apa-apa yang menjadi syarat untuk masuk dalam sistem itu. Lihatlah ketika Rasulullah saw ditawari harta, wanita bahkan kunci ka’bah (kekuasaan) oleh pamannya, Abdul Thalib, tetapi ternyata beliau menolaknya, karena tawaran itu diberikan dengan syarat agar Rasulullah menghentikan dakwah ideologisnya.

Akhir kata, dakwah ideologis harus disampaikan dengan apa adanya tentunya dengan cara yang ma’ruf, jangan sampai terjebak oleh capaian-capaian parsial yang sebenarnya bersifat semu belaka, tetapi malah membuat kita tidak bisa jujur dalam menyampaikan apa yang sebenarnya kita usung sehingga kesadaran umat akan Islam tidak bisa tercapai. Dakwah ideologis akan membangkitkan pemikiran masyarakat, dibantu oleh para Ahlul Quwah insya Allah kebangkitan umat ini akan segera terjadi, maka kekuasaan yang sejati dan janji Allah itu juga akan segera tercapai. Amin.

Written by Budi Kristianto

www.eramuslim.com

Kisah, yang sering terjadi pada kita, yang silakan petik sendiri, kalo ada hikmahnya.

Suatu hari, ada seorang ayah dan anaknya yang melakukan perjalanan ditemani seekor keledai. Sang Ayah merasa kasihan pada anaknya, sehingga anaknya dinaikkan ke atas keledai. Lalu mereka memasuki sebuah desa. Para penduduk desa yang melihat seorang anak yang naik keledai dan ayahnya menuntunnya berbisik-bisik berkomentar. Mereka mengeluarkan komentar:

Anak yang tidak berbakti, masa orang tua yang disuruh menuntun keledai, sedangkan dia sendiri menaiki keledainya.

Mendengar itu, anak beranak tersebut, ketika keluar dari desa memutuskan kalo sekarang ayahnya yang menaiki keledai, sedangkan anaknya yang menuntun.

Lalu, mereka memasuki sebuah desa. Melihat pemandangan tersebut, yaitu, seorang anak yang menuntun keledai yang dinaiki ayahnya, para penduduk desa berkomentar.

Orang tua tidak tahu diri, masa anaknya disuruh menuntun keledai, sedangkan dianya enak-enakan naik.

Mendengar komentar-komentar tersebut, begitu keluar dari desa itu, bapak dan anak itu memutuskan kalo sekarang mereka berdua akan naik keledainya bersama-sama.

Dan mereka memasuki sebuah desa baru lagi. Melihat pemandangan seorang ayah dan anaknya yang menaiki seekor keledai, penduduk desa itu, berkomentar:

Dasar ayah dan anak tidak punya belas kasihan. Seekor keledai kok dinaiki dua orang. Kasihan keledainya..

Keluar dari desa, ayah dan anak ini memutuskan untuk tidak menaiki keledai. Keledainya dituntun bersama.

Memasuki sebuah desa lagi. Penduduk desa berkomentar saat melihat ayah dan anak menuntun seekor keledai. Begini komentarnya:

Dasar ayah dan anak yang bodoh. Punya keledai kok tidak dinaiki.

Keluar dari desa tersebut, coba tebak apa yang akan dilakukan kedua ayah dan anak tersebut…?

Moral cerita yang diambil:

Bahwa, setiap apapun yang kita lakukan pasti mendapat tanggapan ataupun komentar dari sekeliling. Bisa negatif ataupun positif. Dan sampai kapanpun kita tidak akan mampu membuat semua orang puas dan suka dengan semua apa yang kita lakukan. Sebaik apapun tindakan kita, pasti tetap ada komentar negatif yang muncul.

Jadi, kalo sudah memutuskan sesuatu, maka harus siap mental untuk menghadapi segala resiko dan omongan. Kalo yakin yang dilakukan adalah baik untuk kita sendiri, keluarga dan agama, ga usah takut dengan omongan orang, tentangan bahkan boikot.

JANGAN TAKUT UNTUK MELANGKAH!!!!

Assalaamu’alaikum

Sejumlah temenku ada yang bertanya nama anakku dan kok bisa dinamakan itu?

nih,nih.. aku kasih bocoran..

Tadinya aku pengin beri nama anakku Umar, karena aku sangat kagum pada Umar bin Khoththob rodhiallahu ‘anhu. Tapi kayaknya aku dapat pertanda alias wangsit, dengan kata lain ilham (baca inspirasi) untuk beri nama lain.

Ceritanya, beberapa minggu setelah nikah. Seperti biasa, setiap ba’da maghrib, aku kan tadarrus, kali ini kebetulan, kok surat dan ayat yang aku baca pas pada bagian Nabi Ibrahim ‘alaihisalaam merindukan anak, buah hati penerus perjuangan kenabian. Beliau berdoa Robbi Habbli Minnas Sholihin (Ya Rabb, anugerahkanlah aku anak yang Sholeh). Nah aku merasa ini adalah sebuah pertanda. Hasil dari doa Nabi Ibrahim tersebut adalah Nabi Ismail. Karena itu aku ikuti cara Nabi Ibrahim. Setiap selesai sholat kubaca do Nabi Ibrahim tersebut. Berharap anak yang terlahir seperti Nabi Ismail karena hasil dari doa tersebut. Bukankah Nabi Ismail juga melambangkan orang berbakti, Sholeh dan sabar?

Nah, hanya beberapa hari setelah, malah kalo ga salah besoknya istriku mengalami tanda-tanda yang mengarah ke arah kehamilan.

Syaifulloh artinya Pedang ALLOH. Ini adalah julukan Kholid bin Walid. Beliau adalah panglima perang yang selalu dianugerahi kemenangan oleh ALLOH. Pedang ALLOH juga melambangkan keberanian yang diberikan oleh ALLOH untuk membela agama-NYA.

Sedangkan Al-Faruq, itu adalah gelarnya Umar bin Khoththob. Yah,… karena belum jadi memberi nama Umar, akhirnya gelarnya Umar saja yang kuambil. Al-Faruq artinya adalah pembeda yang hak dan yang batil. Diharapkan anakku ini bisa menjadi pembeda yang baik dan yang salah bagi dirinya, lingkungan dan agamanya.

Jadi Intinya, nama itu berarti Ismail Pedang ALLOH pembeda yang haq dan yang batil.

Semoga saja nama itu tidak memberatkan sang matahariku. Karena kadang-kadang ada sebutan kabotan jeneng bagi seseorang yang punya nama sangat bagus tapi orangnya justru mbelingnya minta ampun….

That’s all!

Wassalaamu’alaikum

Sebelum segala sesuatu dimulai, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada hadirin semua untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan himpunan segala kebaikan. Takwa merupakan pangkal kebenaran hakiki bagi setiap Muslim, khususnya bagi setiap dai. Takwa merupakan bekal yang sejati bagi setiap Muslim.

Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (Qs al-Baqarah/2:197).

Takwa merupakan sebab pertama di antara faktor dimudahkannya rezeki. Barangsiapa menghendaki keluasan rezeki yang baik, berupa harta benda, ilmu, isteri shalihah, anak-anak shalih, taufiq, ataupun kebahagiaan dunia dan akhirat yang semua ini merupakan rezeki, akan Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki-rezeki ini, jika ia bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah membuatkan baginya jalan keluar dari segala kesulitan, kelapangan, dari segala kesedihan, dan Allah akan menganugerahkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia duga.1

Jadi, takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan pondasi bagi kehidupan ini. Namun, takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah kalimat yang hanya sekadar diucapkan dengan lidah. Ia merupakan perkara yang ada di dalam hati. Setiap Muslim, bahkan setiap penuntut ilmu, wajib menghiasi diri dengan takwa dalam semua urusan hidupnya. Sebab takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benteng bagi seorang Muslim dari segala perkara yang mengotorinya dalam kehidupan dunia ini, sebagaimana telah kita baca dalam Al-Qur‘an surah al-Ahzâb:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalanamalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Qs al-Ahzâb /33:70-71).

Seorang penuntut ilmu, jika ia pertama kali dapat mewujudkan takwa pada dirinya serta dapat memeganginya (komitmen) dengan teguh dalam semua sisi kehidupannya, niscaya – dengan idzin Allah- ia akan dapat mewujudkan takwa ini pada diri orang lain.

Akan tetapi amat disayangkan, sebagian penuntut ilmu mengajak orang lain untuk bertakwa, namun ia sendiri mengabaikan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia mengajak orang lain untuk bertakwa, selalu mengucapkan kata-kata takwa siang malam, menganjurkan orang supaya bertakwa, dan selalu mengatakan kepada orang lain “bertakwalah dan kerjakanlah amal shalih!”, namun ia sendiri tidak melaksanakan apa yang ia tekankan kepada orang lain.

Hal paling penting lainnya dalam hidup, sebagai salah satu konsekuensi takwa, ialah harus ada hubungan persaudaraan yang kuat, khususnya antar para penuntut ilmu. Ukhuwah diniyah (Islamiyah) memiliki pengaruh yang baik dalam kehidupan ini. Setiap kawan (shadîq), setiap muslim akan memiliki pengaruh jelas bagi kawannya dalam hidup. Apabila seorang muslim bersahabat dengan orang baik, maka kebaikan ini akan berpengaruh pada dirinya. Tetapi, jika ia bersahabat dengan orang yang tidak baik, orang yang kegiatannya tidak mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak juga dekat dengan (ajaran) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka hal-hal buruk ini pun akan berpengaruh pada dirinya. Maka, perhatikanlah oleh seseorang, siapa yang akan ia jadikan kawan dekatnya.

Ukhuwah Islamiyah yang hakiki diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Begitu juga Al-Qur‘an pun memerintahkannya. (Allah berfirman:)

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah ikhwah (bersaudara); karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu. (Qs al-Hujurat/49:10).

Kata “ikhwah” (bersaudara), ketika kita mengatakan “sesungguhnya orang-orang mukmin itu ikhwah (bersaudara)”, adalah kalimat yang tidak mudah. Maksudnya, seakan-akan Anda dalam hubungan (persaudaraan antar mukmin) ini mempunyai pertalian yang sangat erat. Hubungan persaudaraan ini bisa lebih kuat dari persaudaraan nasab. Apakah gerangan yang mengikat persaudaraan ini? Yang mengikatnya, ialah dinul-Islam yang hakiki, ukhuwah Islamiyah yang benar dan hakiki, serta persahabatan yang hakiki.

Sebab banyak orang mengikat persaudaraan dengan orang lain, atau berkawan dan bersahabat dengan orang lain disebabkan oleh kepentingan tertentu. Persahabatan tersebut akan terwujud jika kepentinganya muncul. Namun, jika tidak ada kepentingan, (maka) ia tidak kenal lagi, atau bahkan mencaci-makinya.

Seorang shadiq (sahabat), ialah seorang yang sungguh-sungguh jujur terhadap sahabatnya dalam semua urusan hidupnya dan tidak berbasa-basi. Jika aku (misalnya) melihat suatu kesalahan pada diri sahabatku, maka aku harus menasihatinya dengan nasihat hakiki, bukan nasihat yang membuatnya lari dariku, atau menyebabkannya tidak mau berkumpul lagi denganku. Misalnya, dengan nasihat yang berbentuk caci-maki atau celaan. Tetapi haruslah dengan nasihat yang sungguh-sungguh, nasihat yang ia butuhkan. Jika aku lihat ia tidak taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau suka membicarakan ulama, atau suka mencaci-maki seseorang, atau ia tidak memiliki prinsip yang jelas dalam hidupnya, maka aku akan segera menasihatinya, aku ajak duduk, aku ajak bicara dengan lemah lembut, dengan menggunakan istilah-istilah yang bagus, dan dengan cara-cara yang indah, sehingga kawan ini tidak rusak.

Ada kaidah agung yang termasuk kaidah agama dalam berukhuwah. Demi Allah, jika kaidah ini tidak terwujud pada diri kita masingmasing, niscaya kita akan memiliki cacat dalam menjalin tali ukhuwah. Yaitu, jika seseorang tidak berusaha mewujudkan dan tidak menimbang dirinya berdasarkan petunjuk ukhuwah yang ada dalam hadits. Hadits ini merupakan salah satu kaidah agama. Yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sebelum ia menyukai sesuatu untuk saudaranya apa yang ia suka jika sesuatu itu diperoleh dirinya.2

Sayang sekali, kebanyakan orang sekarang bersikap sebaliknya dari hadits itu. Ia menyukai untuk dirinya, apa yang tidak ia sukai jika diperoleh orang lain. Ia pertama-tama menyukai jika sesuatu itu ia peroleh, kemudian baru memikirkan orang lain. Ia tidak menyukai kebaikan diperoleh oleh orang lain. Ia hanya menyukai jika kebaikan itu ia peroleh. Ia hanya mementingkan dirinya.

Sebenarnya kita memiliki suri tauladan yang baik pada para salafush-shalih, tentang bagaimana persaudaraan mereka, bagaimana mereka menjalin persaudaraan, bagaimana mereka mengutamakan orang lain, bagaimana mereka mempraktekkan perkataan-perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berpegang pada setiap atsar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan contoh nyata dalam berukhuwah, dalam bermu’amalah, dan dalam segala hal yang menyangkut semua urusan hidup.

Demi Allah, tidak ada sesuatu pun kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkannya kepada kita. Tidaklah beliau meninggalkan kita, kecuali menjadikan kita berada pada jalan yang demikian jelas, malam harinya laksana siang harinya; tidak akan menyimpang dari jalan ini kecuali orang yang binasa.

Demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam semua urusannya, dalam masalah ekonomi, masalah ilmiah, ibadah, ketika keluar, ketika masuk, dalam masalah berpakaian, dan dalam segala hal. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak meninggalkan kita kecuali telah mengajarkannya kepada kita. Dan sekarang, tidaklah kaum Muslimin meninggalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kecuali akan dijadikan lemah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan akan dikuasai oleh musuh.

Oleh sebab itu, saya anjurkan kepada saudara-saudaraku supaya bersatu secara sungguh-sungguh dan menjalin ukhuwah sejati. Ukhuwah, yang di dalamnya ada pertalian kokoh, ada saling mengingatkan dengan sesungguh-sungguhnya, dan di dalamnya berisi orang-orang yang senang jika saudaranya mendapatkan apa yang mereka sendiri senang untuk mendapatkannya. Inilah hal terpenting dalam hidup. Dalam suasana ini, hidup akan menjadi sempurna, taufiq serta kebahagiaan dunia-akhirat juga menjadi sempurna.

Demikian pula, saudara-saudara, berpegang teguh pada Sunnah (ajaran) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga akan mewujudkan ukhuwah yang sesungguhnya. Jika Anda melihat seseorang yang baik dan ia Ahlu Sunnah, maka hendaklah Anda segera jalin persaudaraan dengannya. Jika Anda melihat seorang Ahlu Sunnah dan pengikut Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka Anda harus akrabi dia.

Demi Allah, para penuntut ilmu tidak menjadi lemah, bid’ah tidak semakin banyak, kaum Muslimin tidak dilemahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan para musuh tidak dijadikan berkuasa atas kaum Muslimin, kecuali karena kaum Muslimin sudah terlalu jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kalian semua mengetahui, bahwa amal perbuatan seseorang tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat. Apakah dua syarat itu?

Pertama, ikhlas. Yaitu jika amal perbuatan dilakukan secara murni untuk mencari wajah (keridhaan) Allah. Tetapi apakah ini cukup?

Banyak orang Yahudi dan Nasrani mengatakan bahwa mereka ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan peribadatan di tempat-tempat ibadah dan gereja mereka secara ikhlas. Jadi ikhlas benar-benar terwujud. Namun apakah ini cukup? Tentu tidak cukup!

Jika demikian, kapankah ikhlas dapat diterima?

Yaitu (yang kedua, Pent.) apabila amal perbuatan yang sudah dilakukan dengan ikhlas itu, dilakukan dengan mengikuti Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, atau selaras dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Namun bagaimanakah kenyataan kaum Muslimin sekarang? Bagaimanakah kenyataan kita dewasa ini? Ya, amalan ikhlas, akan tetapi menyelisihi ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh sebab itu, Allah melemahkan kaum Muslimin dan menjadikan musuh-musuh Islam berkuasa atas kaum Muslimin.

Lihatlah bermacam bid’ah, khurafat dan ta’ashub (fanatisme golongan) merajalela. Bahkan banyak orang dibikin menjauh dari pengikut Sunnah. Seseorang akan mengatakan “orang ini keras, tidak umum, menentang arus … dan seterusnya”.

Ibnul-Qayyim Rahimahullah mempunyai ungkapan menakjubkan dalam masalah ini. Beliau Rahimahullah mengatakan bahwa menjaga Sunnah (ajaran) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mendakwahkannya, memeganginya dengan kuat dan menghidupkannya (sekarang) lebih utama daripada mengarahkan anak-anak panah ke leher musuh.

Perhatikanlah, Ibnul-Qayyim Rahimahullah sampai mengatakan kalimat demikian!

Sekarang, orang-orang mulai bermalasmalasan terhadap Sunnah. Bahkan mereka berbuat dengan berbagai amal perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh sebab itu, kaum Muslimin menjadi lemah. Bahkan sayang sekali, sebagian penuntut ilmu, orang-orang yang memahami Sunnah, memahami banyak persoalan Sunnah, (mereka) tidak melaksanakan Sunnah dan sering memilih bertoleransi dengan meninggalkan Sunnah untuk tujuan berbasa-basi terhadap seseorang.

Maka, demi Allah, wahai saudara-saudara, bersemangatlah kalian untuk menerapkan Sunnah (ajaran) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demi Allah, (di samping ikhlas), amal perbuatan tidak akan diterima kecuali sesudah amal itu selaras dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Seseorang tidak dapat dipuji agama dan semua urusannya kecuali jika ia sudah menjadi pengikut Sunnah.

Karena itu, bersemangatlah terhadap perkara-perkara Sunnah ini. Bersemangatlah untuk meningkatkan kekuatan beragama secara hakiki di antara sesama kalian. Kalian janganlah saling berseteru. Jika seorang penuntut ilmu melihat kesalahan pada diri saudaranya (sesama Ahlus-Sunnah), jangan menyebabkan orang lain menjauh darinya, jangan memusuhinya, dan jangan mengisolirnya. Tetapi, tunjukkanlah kesalahannya dengan cara-cara dan nasihat yang baik, dengan kata-kata yang baik. Sebab, inilah ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam; kata-kata yang baik. Kita membutuhkan tata pergaulan yang baik. Islam merupakan agama yang menganjurkan tata pergaulan yang baik.

Setiap kita mungkin memiliki kepedulian terhadap urusan agama, namun terkadang tidak memiliki cara bergaul yang baik. Cara bergaul yang baik sangat penting dalam kehidupan ini. Dengannya, kita bisa mengajak orang lain. Dan dengannya, kita bisa mendapat pahala.

Apa ruginya jika engkau tersenyum kepada saudaramu? Salah seorang sahabat pernah mengatakan: “Saya tidak pernah melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kecuali dalam keadaan tersenyum”.

Tersenyum itu berpahala, wahai saudaraku. Perkataan baik yang keluar dari lisanmu, ada pahalanya. Tidak masuk akal jika seseorang, terutama penuntut ilmu, ternyata cara bergaulnya jelek, kata-katanya keras dan kotor. Padahal ia seorang penuntut ilmu yang dikenal. Maka harus baik dalam tata pergaulan, sebagai salah satu wujud dari penerapan terhadap Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Jadi, kalian harus melaksanakan Sunnah.

Sunnah-sunnah (ajaran-ajaran) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ini harus diperhatikan dan dihormati. Memang tidak selayaknya menfitnah manusia dengan persoalan-persoalan ini, tetapi (masing-masing penuntut ilmu harus berfikir bahwa) saya harus bersemangat mengajarkan Sunnah kepada orang lain.

Jagalah ukhuwah yang hakiki oleh kalian. Ukhuwah yang tidak ada cacian, makian, ghibah (gosip), namimah (adu domba), qil wal qal (katanya dan katanya/isu) dan berita-berita bohong. Demikian pula hendaklah seorang penuntut ilmu, bila mendengar fatwa tentang seorang Syaikh, bila mendengar tentang suatu hal, hendaklah mencari kejelasan dan kepastiannya. Tidak menelan berita mentah-mentah.

Cukuplah seseorang berdosa bila ia menceitakan setiap apa yang ia dengar.3

Sebagian orang, setiap mendengar berita, langsung disampaikannya; Si Anu begini, begitu, melakukan ini, itu dan seterusnya. Kebiasaan ini bukan sifat penuntut ilmu.

Pertama kali, kewajiban seorang Muslim atau penuntut ilmu ialah husnuzhan (berbaik sangka) terhadap para ulamanya dan terhadap kawan-kawannya. Selamanya, ia (mesti) berbaik sangka terhadap mereka. Tidak berburuk sangka kepada orang lain. Tidak melancarkan tuduhan kepada orang lain, sebab ia tidak mengetahui isi hati mereka. Bila kita melihat seorang saudara berjalan bersama pelaku bid’ah, jangan langsung menghukuminya. Sebab siapa tahu, ia sedang menasihati, atau menghendaki sesuatu darinya, atau ingin melakukan pendekatan kepadanya untuk suatu urusan. Jika kita langsung menghukuminya bahwa “orang ini serupa, sama-sama ahli bid’ah”, maka ini tidak benar. Apakah kita mengetahui hatinya?

Seperti sahabat yang membunuh orang yang mengucapkan La ilaha Illallah tatkala orang yang dibunuhnya terdesak dalam peperangan. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menanyakannya, mengapa ia bunuh orang yang mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah?

Ia menjawab,”Sebab orang ini hanya bermuslihat untuk menyelamatkan diri,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Apakah engkau membelah dadanya?”.

Demkianlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menegur. Padahal orang yang dibunuh ini awalnya jelas-jelas musuh yang kafir. Sedangkan ini adalah muslim yang shalat, puasa dan melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tiba-tiba engkau langsung menuduhnya dengan tuduhan semacam ini. Jelaslah, itu bukan pekerjaan yang semestinya bagi penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu hendaklah memiliki akhlak mulia, memiliki cara bergaul yang baik, memberi nasihat yang baik dan berpegang kepada Sunnah secara hakiki. Ia tidak layak terlalu keras seraya mengatakan “sayalah satu-satunya pengikut Sunnah, orang lain bukan pengikut Sunnah”.

Jadi, semestinya ia mengajak orang lain menuju Sunnah, agar setiap orang berpegang dengan teguh terhadap Sunnah, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak meninggalkan kita kecuali beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajarkan segala sesuatu kepada kita, termasuk tata cara bergaul dengan orang lain dan melakukan pergaulan dengan orang kafir. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita bagaimana bergaul dengan orang-orang munafik dan dengan pengikut bid’ah, serta mengajarkan banyak hal kepada kita dalam urusan hidup kita.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita kapan harus berjihad, kapan kita boleh mengatakan bahwa suatu perkara menyebabkan seseorang menjadi kafir. Misalnya engkau melihat seseorang tidak shalat di masjid. Melihat ini, ada orang yang langsung menghukumi bahwa ia tidak shalat, berarti kafir. Tentu jika sudah jelas berdasarkan bukti bahwa ia meninggalkan shalat, maka meninggalkan shalat adalah kufur. Tetapi, apa engkau boleh langsung menghukumi ia kafir? Tentu tidak, sebab siapa tahu ia shalat tetapi engkau tidak mengetahuinya, atau ia baru masuk Islam, atau alasan-alasan lainnya. Banyak orang meremehkan masalah seperti ini.

Seorang penuntut ilmu harus menggali ilmu secara mengakar, menggali masalah ‘aqidah, membaca kitab-kitab ‘aqidah dengan benar. Kalian telah mengetahui bahwa jalan pertama menuju surga ialah tauhid. Demi Allah, seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan tauhid yang bersih. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berada di Mekkah selama 13 tahun mendakwahkan tauhid. Jadi, seseorang harus belajar ‘aqidah yang benar.

Ada sebagian orang dari penuntut ilmu dan dai, jika ditanya tentang definisi iman, ia tidak tahu. Ditanya tentang makna iman menurut Murji‘ah, ia tidak tahu. Ia tidak memiliki modal ilmu. Ditanya tentang kaidah takfir (hukum mengafirkan orang), ia tidak tahu. Tentang pedoman jihad, ia tidak tahu. Apa arti wala‘ wal-bara‘, ia tidak tahu. Apa perbedaan antara muwâlah dan mu’amalah, ia tidak paham. Padahal ia berdakwah mengajak manusia menuju Islam. Oleh sebab itu, harus menggali ilmu secara benar sampai mengakar. Supaya ia mengetahui, kapan persoalan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir.

Ada orang yang menghukumi kafir kepada setiap orang, terutama penguasa yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah. Ini tidak benar!

Saya termasuk salah satu dari anggota komisi yang bertugas memberikan nasihat kepada para pemuda pelaku penyimpangan. Pemuda yang memiliki pola pikir menyimpang, yang melakukan peledakan di tempat-tempat pemukiman. Para penjahat yang menghabisi diri sendiri dan menghabisi orang lain. Pelaku-pelaku itu tidak memiliki bekal ilmu yang cukup. Mereka hanya memiliki semangat dan emosi. Mereka bersemangat terhadap banyak hal menyangkut kepentingan agama, tetapi tidak memiliki dasar ilmiah, kosong!.

Demi Allah, jika mereka memahami agama ini secara hakiki, tentu mereka tidak akan melakukan tindakan-tindakan anarkhis tersebut. Andaikata mereka memahami wala‘ wal-bara‘ dan bisa membedakan antara muwâlah (setia kawan dan kasih sayang) dengan mu’âmalah (tata pergaulan yang baik), tentu mereka tidak akan melakukan tindakan-tindakan itu.

Saudaraku, andaikata penguasa betul-betul kafir, selama engkau berada di dalam wilayah kekuasaannya, maka ia memiliki hak yang wajib engkau laksanakan. Apalagi jika penguasa itu seorang muslim.

Orang tidak bisa membedakan antara muwâlah (setia kawan dan kasih sayang) dengan mu’amalah (tata pergaulan yang baik). Sehingga sekedar engkau bermu’amalah (melakukan pergaulan) dengan orang kafir, engkau akan dianggap telah mencintai dan bersetia kawan dengan orang kafir tersebut.

Wahai saudaraku, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan makna muwâlah kepada kita. Al-Qur‘an juga telah menjelaskannya kepada kita. Sementara itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tetap bermu’amalah (melakukan pergaulan) dengan orang-orang kafir di Madinah. Beliau –misalnya- mempergauli orang Yahudi, ziarah ke tempat seorang Yahudi yang sedang sakit, sehingga dengan sebab itu orang Yahudi tersebut masuk Islam.

Lalu bagaimanakah dengan kita (kaum Muslimin) sekarang ini? Mengapa kita mempersulit diri kita sendiri dan mempersulit orang lain? Mengapa banyak di antara kita (kaum Muslimin) yang menjadikan orang lain antipati terhadap Islam disebabkan oleh tindakan keras yang tidak bedasarkan petunjuk dari Allah? Mengapa demikian? Terutama yang berkaitan dengan cara memberikan nasihat dan pemahaman wala‘ wal-bara‘, mengapa tidak mengikuti manhaj Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?

Demikianlah untaian nasehat Syaikh ‘Abdul- ’Aziz -hafizhahullah- selanjutnya memberikan contoh tentang sikap para ulama yang lemah lembut dalam mempergauli orang lain, seperti Syaikh bin Baz Rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin Rahimahullah.

Begitu pula pada bagian-bagian akhir dari nasihatnya, Syaikh ‘Abdul-’Aziz - hafizhahullah- menekankan agar setiap penuntut ilmu bersungguh-sungguh mengkaji dan menggali ilmu sampai mendalam melalui bimbingan para ulama Ahlus-Sunnah. Sebab dengan ilmu itulah, seseorang akan dapat mengikuti Sunnah dan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara benar. Sehingga tidak akan melakukan penyimpanganpenyimpangan, termasuk tindakan anarkhis dan merugikan orang lain, yang menyebabkan citra Islam menjadi buruk, bahkan di kalangan kaum Muslimin awam.

Demikianlah kandungan bagian akhir dari nasihat Syaikh ‘Abdul-’Aziz -hafizhahullah- yang terpaksa kami ringkas, karena nasihat tersebut masih agak panjang. Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin. Wallahu Waliyyu at-Taufiq.

1 HR Abu Dawud no. 1297 (Hadits dha’îf. Dha’îf Sunan Abî Dawud 327, Dha’îf Sunan Ibni Mâjah no. 834)
2Muttafaqun ‘alaihi.
3 HR Muslim no. 6, Abu Dawud no. 4340

 

Artikel ini diambil dari bukhari.or.id

Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia.
Tapi, sungguh ironis, Islam malah dipinggirkan.  Cara Hidup masyarakat yang katanya beragama Islam tapi, ternyata tidak tahu tata cara, adab, dan beribadah dan cara hidup sebagai seorang muslim.

Lalu yang belakangan dalam beberapa tahun terakhir mulai marak adalah munculnya partai yang mengusung Islam atau membawa-bawa Islam tuk diperjualbelikan. Sepintas memang sangat Islami, tapi kalo lebih teliti dan mau membuka mata, telinga, dan mau belajar tentang Islam yang lebih dalam, maka akan terlihat dengan jelas penyimpangan-penyimpang yang dilakukan oleh partai yang mengaku partai islam. Mau bukti…?

Tentu yang lagi agak hot, adanya seorang caleg (dari partai yang sudah terkenal “kesuciannya” dalam menjalankan Islam) ternyata lagi main di Lokalisasi di Jambi.

Itu baru sekelumit yang terlihat jelas, sekarang kita korek yang lebih dalam lagi…

Pertama, partai-partai Islam yang ada tidak memiliki konsepsi (fikrah) yang jelas dan tegas. Sebagai contoh, ketika mensikapi fenomena kepala negara perempuan hanya berkomentar, ”Ini masalah fikih. Semua terserah rakyat”. Pada waktu didesak pendapatnya tentang syariah Islam, menjawab, ”Syariah Islam itukan keadilan, kebebasan, dan kesetaraan”. Kalau begitu, tidak ada bedanya dengan partai-partai pada umumnya. Ketika ramai membincangkan amandemen UUD 1945 tentang dasar negara, sebagian menyatakan, ”Partai kami tidak akan mendirikan Negara Islam”, ”Kembali kepada Piagam Jakarta”, dan partai Islam lainnya menyatakan ’Indonesia ini plural harus kembali ke Piagam Madinah dimana tiap agama menjalankan hukum masing-masing’. Sikap demikian membuat umat menyimpulkan tidak ada bedanya antara partai yang menamakan partai Islam dengan partai lainnya.

Kedua, partai-partai secara umum hanya diperuntukkan bagi pemenangan Pemilu. Kegiatannya terkait persoalan rakyat hanya digiatkan menjelang pemilu. Dalam kurun waktu antara dua pemilu, umumnya partai kurang aktif. Kalaupun aktif lebih disibukkan dengan aktivitas pilkada untuk menggoalkan calonnya. Interpelasi masalah beras atau Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) hanya panas-panas tahi ayam. Ujungnya, tidak ada penyelesaian.

Ketiga, tidak menjalankan metode yang jelas. Untuk melakukan perubahan ditengah masyarakat ditempuh dengan membuat undang-undang. Namun, jalannya dengan kompromi dan tambal sulam.
Bahkan, berkoalisi antara partai Islam dengan partai nasionalis yang anti
Islam, bahkan partai kristen yang jelas-jelas memproklamirkan dirinya
’konsisten menentang syariah’. Kalaupun menyatakan ’partai nasionalis relijius’
tidak jelas apa maksudnya. Dengan perilaku demikian rakyat tidak melihat ada
bedanya antara partai Islam dengan partai nasionalis, misalnya.

Keempat, tidak adanya ikatan yang kuat diantara para anggotanya. Ikatan yang ada lebih pada kepentingan. Muncullah perpecahan didalam tubuh partai-partai Islam atau berbasis massa umat Islam.

Kelima, perilaku sebagian anggota/pengurus tidak mencerminkan partai Islam sesungguhnya. Aliran dana untuk DPR termasuk yang ’tidak jelas asalnya’, juga diterima oleh sebagian partai Islam. Alasannya, nanti akan dikembalikan kepada rakyat yang menjadi konstituennya. Hal ini menambah pemahaman masyarakat tentang sulitnya membedakan antara partai Islam dengan partai bukan Islam.

Belum lagi dengan persetujuan partai Islam tersebut dalam kegiatan-kegiatan yang jelas-jelas tidak sesuai syariat. Misalkan baru-baru ini para petinggi partai memanfaatkan momentum Perayaan MAULID Nabi tuk membuat imej alim. Padahal kalo mau belajar sedikit saja, akan ketahuan yang namanya perayaan maulid adalah suatu Bid’ah. Mereka ikut dalam perayaan tersebut tentu saja untuk menarik massa.

Lalu ada lagi yang secara terang-terangan melecehkan Syariat Islam beberapa waktu lalu saat sedang panas-panasnya menggodog Undang-Undang Pornografi. Salah seorang orang nomor satu di sebuah partai Islam dengan lantang berseru, “Kalo Kemben dilarang, itu ngawur namanya.”. Lha, yang ngawur siapa? Sudah jelas-jelas di al-qur’an disebutkan tentang batas aurat wanita dari mana sampai mana, sekarang kemben yang sudah jelas-jelas tidak memenuhi syarat menutup aurat kok malah dibela. Dan malah Syariat Islam yang Suci dan Tinggi yang dihina dan disalahkan.

Jadi, kalo mau jujur, sebenarnya, yang namanya partai Islam tidak ada bedanya dengan partai-partai lain yang tidak mengusung bendera Islam.

Mari, kita kuatkan iman, belajar lagi, maka kita akan benar-benar baru bisa hidup secara Islami. Kan tidak mungkin menjalankan sesuatu yang tidak punya ilmunya…..

Khurofat Demonstrasi

Kategori: Manhaj Salaf

Belakangan ini demonstrasi sudah bisa dikatakan sangat lumrah di negara kita. Banyak orang mengatakan bahwa “demonstrasi” adalah bagian dari amar makruf nahi munkar, sehingga seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan. Namun kita harus melihat dari kacamata syar’i apakah benar demonstrasi yang dinamakan oleh pemujanya sebagai metode amar ma’ruf nahi munkar merupakan manhaj (cara beragama) Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, ataukah sesuatu yang harus diluruskan? Dan ketahuilah, tidaklah nama yang indah itu akan merubah hakikat sesuatu yang buruk, walau dibumbui dengan label Islami.

Metode Nabi Dalam Ber-Amar Ma’ruf

Rasulullah bersabda, “Agama adalah nasihat” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya,  para pemimpin kaum muslimin serta orang-orang awamnya.” (HR. Muslim no.55) Perhatikanlah saudaraku, agama kita mensyariatkan untuk memberi nasihat. Namun tidaklah nasihat tersebut disampaikan kecuali dengan cara yang baik, tidak dengan membuka aib penguasa. Simaklah baik-baik sabda Rasulullah shallollahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati)” (Shahih, riwayat Ahmad, Al Haitsami dan Ibnu Abi Ashim) Saudaraku, apakah seseorang dapat menerima saranmu dengan baik jika engkau jelek-jelekkan serta kau umbar aibnya di depan umum? Bagaimana jika kejengkelan hatinya telah mendahului nasihatmu?

Jatuh Dalam Riba yang Paling Mengerikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya riba yang paling mengerikan adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan” (Shahih, riwayat Abu Dawud dan Ahmad). Kehormatan seorang muslim adalah haram, sedangkan dalam demonstrasi ini tidak jarang akan engkau temukan berbagai macam pelecehan kehormatan seorang muslim dengan mencelanya.

Fitnah Wanita dan Ikhtilath

Hampir di setiap gerakan massa diwarnai dengan hadirnya kaum wanita di jalan-jalan. Hal ini jelas bertentangan dengan syariat islam, karena Allah melarang wanita untuk keluar dari rumahnya kecuali dengan alasan yang syar’i. Selain itu, hal ini akan menimbulkan ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita yang bukan mahramnya secara terang-terangan! Maka cukuplah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini bagi mereka. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Rasulullah bersabda, “Tinggalkanlah olehmu bercampur baur dengan kaum wanita!” (HR. Bukhari).

Tasyabbuh (Meniru) Dengan Kaum Kuffar

Demonstrasi adalah produk barat yang jelas-jelas menganut sistem kuffar. Maka tidak pantas bagi seorang muslim untuk memasang label ‘islami’ karena memang Islam tidak mengajarkan cara seperti ini. Atau bahkan meyakininya sebagai metode dakwah yang islami. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Ketahuilah sidang pembaca yang budiman, sesungguhnya Islam tidak akan menang dengan cara yang menyelisihi syariat, namun Islam akan menang dengan cara yang benar yang dibangun di atas aqidah yang benar, dan jalan yang telah ditunjukkan Nabi Muhammad. Maka sesungguhnya kebahagiaan dan keselamatan adalah dengan mengikuti Rasul, bukan dengan menyelisihi beliau.

***

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id

Sabar

Assalaamu’aaikum

Ada 3 jenis sabar dan memiliki tingkatan sendiri-sendiri:

1. Sabar dalam musibah.

Ini tingkatan terendah, kenapa terendah? Karena memang mau tidak mau, kita harus sabar dalam menghadapi musibah. Walaupun tidak terima dengan musibah yang menimpa, tidak akan mengembalikan keadaan. Misalkan, dapat musibah orang tua meninggal. Walaupun tidak terima, mau menangis sampai keluar darah, melakukan apa saja, bahkan kalo mungkin bersedia mengganti apapun, tetap tidak akan mengembalikan keadaan. Yang meninggal tidak akan hidup lagi. Sama kalo dapat musibah yang lain, mau bagaimanapun, tidak ada pilihan lain selain harus sabar menerima.

2. Sabar terhadap larangan

Nah, ini tingkatannya lebih susah dari yang pertama. Sekarang kita punya pilihan. Mau melakukan larangan atau tidak. Tentu saja sabar tingkatan ini ada tantangannya. MIsalkan, sudah tahu sesuatu makanan haram. Kita pasti pernah berpikir, gimana sih rasanya. Atau melihat orang memakannya kok kayaknya enak. Kalo masih bisa lolos dan tidak melakukannya, maka berarti kita telah memiliki sifat sabar ini.

3. Sabar dalam ketaatan

Nah, ini tingkatan paling tinggi. Mungkin kita bisa sebut dengan kata lain yaitu ISTIQOMAH. Sulit sekali untuk melakukan suatu ketaatan kepada ALLOH. Misalkan saja, kalo yang pengin tetap bisa qiyamul lail, pasti ada saja halangannya, entah misalkan ngantuk, dingin, atau terlalu capek bekerja saat siang dll. Dan sayangnya, dan biasanya, kalo orang-orang dengan iman pas-pasan (seperti aku ini) lebih sering kalahnya daripada menangnya menghadapi tantangan ini. Yang paling sering dan paling umum, misalnya, kalo pas mo berangkat sholat jum’at. Padahal sudah mandi, sudah rapi, wangi de el el, eh, pas gilirannya sudah mulai khotbah, kok ngantuk menyerang tiba-tiba. Dan bukannya dilawan, eh malah dinikmati. Dan akhirnya pules dan sampai ngiler. Pas gilirannya selesai sholat jum’at, eh mata kok terang benderang, tak ada rasa kantuk sedikit pun.

Yah, begitulah rintangan-rintangan untuk mencapai tingkatan tertinggi dalam keimanan, dalam hal ini sabar. Semoga kita selalu diberi kesabaran dalam menghadapi apapun, dalam menjauhi larangan dan dalam ketaatan.

Tulisan ini merupakan reka ulang dari salah satu kajian di salah satu masjid di Semarang pada tanggal 18 Februari 2009 ba’da maghrib

Wassalaamu’alaikum

bLOWING iN tHE wIND

How many roads must a man walk down
before you call him a man?
How many seas must a white dove sail
before she sleeps in the sand?
Yes, and how many times must the cannon balls fly
before they’re forever banned?
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind
Yes, and how many years can a mountain exist
before it is washed to the sea?
Yes, and how many years can some people exist
before they’re allowed to be free?
Yes, and how many times can a man turn his head
and pretend that he just doesn’t see?

The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind
Yes, and how many times must a man look up
before he can see the sky?
Yes, and how many ears must one man have
before he can hear people cry?
Yes, and how many deaths will it take till he know
that too many people have died?
The answer, my friend, is blowing in the wind
The answer is blowing in the wind

bY bOB dYLAN

I’m Back

Assalaamu’alaikum

I’m back. After all the “burdens” that comes to my life, now, I can live my life again. But there’s something missing in my life and this life won’t be the same again.

One of the door to get in the Jannah has been closed now. Ya ALLOH, please, forgive all the fault and sins that my father did. I’m down on my knees, my Lord.

I don’t know what I’m feeling now. Still, …….

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, dia berkata: “Dahulu orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassalaam tentang kebaikan, namun aku aku bertanya tentang keburukan karena khawatir ia akan menimpaku. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassalaam, dahulu kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, lalu Alloh mendatangkan kebaikan ini kepada kita, maka setelah kebaikan ini apakah ada keburukan?’

Beliau menjawab, ‘Ya,’

Aku bertanya, ‘dan apakah setelah keburukan ini ada kebaikan?’

Beliau menjawab, “Ya, tetapi padanya terdapat dakhan (kegelapan,kekeruhan).’

Aku bertanya, ‘Apa dakhannya?’

Beliau menjawab, “Suatu kaum yang memberikan petunjuk dengan selain petunjukku. Engkau mengenal mereka, tetapi engkau mengingkari.’

Aku bertanya, ‘Maka setelah kebaikan ini apakah ada keburukan?’

Beliau menjawab, “Ya, yaitu para da’i yang berasa di atas pintu-pintu jahannam. Barangsiapa menyambut mereka menuju Jahannam itu, mereka melemparkannya ke dalam Jahannam.”

Aku berkata, “Wahai Rasullulloh shollallohu ‘alaihi wassalaam, jelaskan sifat mereka kepada kami!’

Beliau menjawab, “Mereka dari kulit kita. Mereka berbicara bahasa kita.

Aku bertanya, ‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku, jika keadaan itu menimpaku?’

Nabi Shollallahu ‘alahi wassalaam menjawab, “Engkau menetapi jama’atul muslimin dan imam mereka.”

Aku berkata, ‘Jika mereka tidak memiliki jama’ah dan imam?’

Beliau bersabda, “TInggalkan firqoh-firqoh semuanya, walaupun engkau menggigit pokok pohon, sampai maut menjemputmu, sedangkan engkau dalam keadaan demikian.” HR. Bukhari, no 7084; Muslim, no. 1847 (Dikutip dari majalah As-Sunnah Edisi 4 / tahun XI/1428H/2007M)

Older Posts »